Senin, 23 April 2012

Naskah Drama 7 Orang

Maafkan Aku, Sahabatku

Di saat itu, di sebuah kamar terlihat seorang gadis yang beru saja pulang dari sekolah. dia duduk di tempat tidur sambil membuka sepatunya. Gadis itu bernama Anita dia berumur 15 tahun dan baru menduduki kelas 3 SMP di SMP terfaforite se-Kota Bogor yaitu SMP Negeri 1 Bogor. Dia terlahir dari sebuah kelurga sederhana, berkat kepintarannya dia dapat masuk ke SMP tersebut melalui jalur beasiswa. Anita tergolong anak yang cerdas, cakap, dan baik hati namun, sejak Ayah dan Kakanya meninggal akibat perampokan diapun sedikit berubah menjadi anak yang pendiam. Anita tinggal bersama Ibunya yang mengalami kebutaan sejak lahir. Oleh karena itu, dia menjadi tulang punggung untuk menghidupi Ibunya. Di kamar itu dia termenung dan berbicara sendiri meratapi hidupnya yang begitu berat.

Anita : “ Ya Allah,,,brgitu sulit hidup ini untuk ukuran anak seusiaku. Di saat orang lain bermain aku harus bekerja, di saat orang lain istirahat aku harus mengusap keringatku. Tapi, aku terima semua ini Ya Allah,,,karena aku yakin di balik semua ini pasti ada kebahagiaan yang begitu indah. “ ( Monolog )

Di saat, Anita termenung. Tiba-tiba datang sahabat Anita yaitu Sintia. Dia adalah sahabat Anita yang manis di bibir tapi pahit di lidah atau baik di depan tapi jahat di belakang. Sintia adalah sahabat yang selalu menusuk dari belakang, namun Anita tidak pernah mengetahui siapa Sintia yang sebenarnya. Sintiapun masuk ke kamar Anita dan menyapa Anita.

Sintia : “ ( Sambil masuk ke dalam ) Haiiii….Nit lagi apa loh? “
Anita : “ ( Dengan muka yang lemas ) Keliatannya lagi ngapain? “
Sintia : “ ( Sedikit kesal ) Ko,ditanya malah balik Tanya sih? “
Anita : “ Sintia, aku lagi cape! Jadi jangan banyak Tanya, ngerti! “ ( Dengan
marah )
Sintia : “ Ok, aku ngerti! “ ( Dengan Sebal )

Tiba-tiba, Anita batuk dan batuk itu terjadi terus- menerus dan tanpa sepengetahuan Sintia ternyata batuk itu bercampur darah.

Anita : “ ( Batuk terus-menerus ) Astagfiruwllahaladhim ! “ ( Terkejut )
Sintia : “ Anita, kamu kenapa ? “
Anita : “ Gak apa-apa kok, paling Cuma batuk biasa kok ! “ ( Sambil menye-
mbunyikan sapu tangan yang terkena darah )
Sintia : “ Kamu jangan bohong!!! “ ( Sedikit curiga )
Anita : “ Aku gak bohong,ya udah deh aku mau istirahat mungkin aku keca-
pean . Kamu pulang aja yah…..( Sambil mendorong Sintia keluar )
dah Sintia…..”

Sintia pun pulang tanpa menghiraukan apa yang telah terjadi tadi, dan di depan pintu mobilnya dia berbicara sinis.

Sintia : “(monolog) Anita-anita ( sambil menggelengkan kepala ) Kenapa
kamu gak mampus aja. Karena lebih cepat jauh lebih baik. “ ( terse-
nyum licik )

Sintia pun pulang dengan mengendarai mobilnya.

Keesokan harinya, Anita pergi ke Dokter untuk memeriksa keadaan dirinya. Setelah di periksa Anita pun berkonsultasi dengan Dokter.

Anita : “ Dok, saya sakit apa yah? “ ( Dengan penuh penasaran )
Dokter : “ Saya berharap, ade bisa sabar dan tawakal setelah mendengar apa
yang saya katakana? “
Anita : “ Insya allah,,,saya siap mendengarnya dok. “ ( Dengan rasa tegang )
Dokter : “ Ade, terkena penyakit kanker stadium lanjut yang harus segera di
obati. Namun jika tidak cepat diobati kemungkinan usia Ade sudah
tidak lma lagi. “
Anita : “ ( Terkejut ) Astagfiruwllahaladhim, dok kalau saya meninggal sia-
pa yang akan merawat ibu saya, dok? “
Dokter : “ Emang, Ibu Ade kenapa? “
Anita : “ Ibu saya buta dok ! “
Dokter : “ Ade, harus optimis. Ade harus yakin kalau Ade bisa sembuh,
karena jodoh, hidup, dan mati semuanya ada di tangan Allah SWT. “
( Meyakinkan Anita )
Anita : “ Terima kasih Dok? “ ( sambil berjabatan tangan )
Dokter : “ Iya sama-sama. “ ( Sambil berjabat tangan juga )
Anita : “ Permisi, Assalamu’alaikum ! “ ( Sambil keluar )
Dokter : “ Wa’alaikumsalam. “

Anita begitu terpukul dan sedih setelah mendengar apa yang dokter katakan kepadanya. Lalu, Anita pun pergi ke TPU di mana Ayah dan Kakaknya dimakamkan, dia menangis dan bercerita di atas tanah pemakaman Ayah dan Kakaknya. Karena, dikala Anita sedih atau pun bahagia dia selalu bercerita di atas pemakaman Ayah dan Kakanya.

Anita : “ Ayah, Kakak, maafin Anita. Anita datang ke sini membawa kabar
yang menyedihkan. Yah…Kak…Anita terkena penyakit kanker sta-
dium lanjut. Anita takut….jikalau Anita meninggal nanti siapa yang
akan merawat Ibu….Maafin Anita yah….Maafin Anita Kak…”
( Sambil menangis )

Beberapa menit kemudian……

Anita : “ Yah…Kak…Anita pamit pulang dulu. Anita janji Anita akan men-
jaga Ibu hingga akhir hidup Nita. Nita janji-Nita janji!!! “ ( Sambil
pergi meninggalkan pemakaman )

Anita pun pulang dan di rumah dia bertemu Radit teman SMP nya yang menyukainya semenjak kelas 1 hingga Sekarang.

Anita : “ Assalamu’alaikum ? “ ( Sambil Masuk )
Radit : “ Wa’alaikumsalam. “
Ibu : “ Wa’alaikumsalam, nak..”

Anita langsung mencium tangan Ibunya.

Anita : “ Bu, kok ada Radit ? “
Ibu : “ Iya nak, dia dari tadi nungguin kamu katanya ada sesuatu yang mau
dibicarakan. Kamu dari mana sayang ? “
Anita : “ aku dari TPU bu, makannya telat. “
Ibu : “ Ooh,,,,ya sudah Ibu tinggal dulu yah, kamu temani radit. Nak Radit? “
Radit : “ Iya bu. “
Ibu : “ Ibu tinggal dulu yah ? “
Radit : “ Iya bu, terima kasih. “
Ibu : “ Iya sama-sama. “ ( Sambil pergi menuju kamar )
Anita : “ Bu, Biar nita antar ke kamar. “ ( Sambil Memegang Ibu )
Ibu : “ Ya sudah, makasih sayang. “

Anita pun mengantarkan Ibunya ke kamarnya. Lalu. dia kembali ke ruang tamu untuk menemui Radit.

Anita : “ Maaf, nunggu lama ? “
Radit : “ Gak apa-apa kok ! “ ( Dengan Canggung )
Anita : “ Ada apa yah ? “ ( Dengan penasaran )
Radit : Enggak, kenapa kamu gak sekolah. Tapi kok pake baju seragam ? “
Anita : “ Tadi aku ke Dokter, tapi aku gak mau Ibu ku tau. “
Radit : “ ( Penuh kekhawatiran ) kamu sakit apa ? Kenapa kemu gak bilang,
kan bisa aku anterin ! “
Anita : “ Gak perlu, makasih atas tawarannya. “ ( Dengan cuek )
Radit : “ Kedatangan aku ke sini, aku mau ngomong sesuatu sama kamu ! “
Anita : “ Ngomong apa ? “
Radit : Mungkin kamu udah tau sebelumnya, tentang isi hati ku ama kamu!”
Anita : “ Aku gak ngerti ! “
Radit : “ Sebenarnya….aku….aku….aku….sayang sama kamu. “
Anita : ( Bingung ) “ Radit aku gak suka ama kamu, aku anggap kamu seba-
gai sahabatku. Masih ada yang lebih mencintai kamu! “
Radit : “ Siapa Nit ? Tapi aku yakin kalau kamu itu sayang ama aku. “
Anita : “ Orang itu sahabatku yaitu Sintia, kenapa kamu bisa seyakin itu ? “
Radit : “ Aku sih udah tau, aku yakin banget. “
Anita : “ Aku gak pantas buat kamu, karena aku…” (batuk secara terus-me
nerus )

Anita batuk terus-menerus dan mengeluarkan darah. Batuk Anita bercampur darah.

Radit : “ ( Khawatir ) Nit, kamu kenapa ? nih, kamu minum dulu. “ ( Sambil
memberikan minum )
Anita : “ (meminum air) Makasih, Radit aku terkena penyakit kanker stadi-
um lanjut umurku udah gak lama lagi. Jadi tolong kamu, jika kamu
mau membahagiakan aku. Cintailah sahabatku, tolong….tolong….
Radit ! “ ( Memohon kepada Radit )
Radit : “ Baik Nit, jika itu membuat kamu bahagia dan terbaik aku rela. Tapi
satu hal yanh harus kamu tau, Aku, akan selalu sayang ama kamu
sampai kapanpun ! “ ( pergi meninggalkan Anita )

Radit pun pergi. Keesokan harinya Anita di undang oleh sahabatnya Sintia untuk datang ke syukuran kecil-kecilan bersama Ibunya dalam rangka merayakan hari jadinya Sintia dan Radit. Karena Ibu dan Ayah Sintia sedang ke luar negeri jadi yang datang hanya Anita, Ibunya, dan Hari temannya Radit. Di syukuran itu juga ada kakaknya Sintia yaitu Rasti, tentunya ada Sintia beserta Radit di sana. Lalu, Sintia pun membuka syukuran itu.


Sintia : “ Bismillahirrahmanirahim, terima kasih atas kedatangan kalian sem-
ua di hari jadi Aku dan Radit, aku senang sekali karena akhirnya
aku bisa bersanding dengan Radit, begitu juga Radit. Iya kan Radit?”
Radit : ( Hanya mengangguk )
Rasti : “ Heh, Anita liatin tuh Ade gue panteskan ama Si Radit ? “
Anita : “ Iya kak. “
Rasti : Yaiyalah jelas , jadi kamu jangan mimpi deh bisa memiliki Radit,
ngerti loh ? “
Radit : “ Kakak, kakak gak boleh ngomong begitu. Kakak jaga ucapan kakak
! “ ( dengan nada tinggi )
Hari : “ Bro….santai…bro…. itu emang nyata kali!!!” ( membela Rasti )
Sintia : “ Eh…udah-udah ini tuh hari bahagia gue jadi jangan ngerusak dong!!!” ( Meredakan suasana )
Anita : “ Maaf, Aku mau ke toilet dulu. “ ( Sambil bergegas pergi ke toilet )

Di dalam toilet, Anita pun menangis.

Anita : “ Ya Allah…Kenapa hati ini begitu sakit ya allah….bukan sakit kar-
ena sindiran Kak Rasti tapi karena melihat Radir bersama Sintia.
Radit andai aja kamu tau kalau aku tuh sayang…banget ama kamu
. Tapi biarlah rasa ini aku simpan dalam hati dan akan selalu ku jaga
hingga akhir waktu nanti. Biarkanlah aku menderita asalkan sahaba-
tku bahagia. “ (monolog)

Lalu, setelah beberapa menit kemudian Anita kembali ke Ruang Tamu.

Ibu : “ Nak, kamu lama sekali. “
Anita : “ Maaf bu. “
Sintia : “ Heh, Anita disini juga, sekarang juga aku ingin persahabatan kita
sampai di sini alias putus!!!” ( Sambil berdiri )
Anita : “ Maksud kamu apa ? “ ( Sambil berdiri dan terkejut )
Rasti : “ Kamu tuh bonge yah ? kata ade gue persahabatan loh sama dia itu
sampai di sini atau putus!!! “ ( Sambil membentak dan mendorong )
Anita : “ Auuuu…..( Terjatuh )
Ibu : “ Jangan sakiti anakku!!!” ( Sambil berdiri )
Sintia : “ Ah,,,diem loh nenek tua ! “ ( Sambil mendorong )

Ibu pun terjatuh dan terkena tembok, dengan seketilka itu juga ibu menghembuskan nafas terakhir dan meninggal dengan tergeletak bercucuran darah.

Anita : “ Ibu,,,,Ibu,,,jangan tinggalin Anita Bu,,,Ibu,,,,Ibu,,,,”(sambil berteri-
ak histeris dan merangkul ibunya )
Sintia : “ Eh, Anita…..rasain loh! gue udah dapetin semua yang gue mau da-
ri mampusnya Ibu loh, Perampokan yang gue rencanain buat mam-
pusin Ayah dan Kakak loh, sekarang Radit jadi milik gue, rasain loh
!!!” ( Sambil tersenyum licik )
Rasti : “ Ini semua kita lakuin karena kita gak suka kalo loh bahagia tau !!!”
Hari : “ Sintia, Rasti, Loh berdua jahat banget sih, persis kaya setan tau gak.”
( Dengan rasa kesal )
Radit : ( Diam penuh kemarahan )
Anita : ( Terkejut ) “ Apa jadi ini rencana kalian ? “
Sintia : “ Kalo iya loh mau apa!!!”
Anita : “ Sin, kenapa kamu ngelakuin itu sama aku. Apa salah aku ama kamu
? Aku rela ngasih semuanya ama kamu tapi ini balasan kamu buat
aku sahabat kamu!!! “
Sintia : “ Gue gak minta!!! “
Radit : “ Sintia,,,brengsek loh…” ( Sambil mengarahkan pisau ke arah sintia)

Lalu, ketika Radit mengarahkan pisau kea rah Sintia tiba-tiba Anita menghalanginya dan akhirnya pisau itu pun terkena kepada Anita.

Radit : “ Anita.....maafin aku nit? “
Anita : “ Gak apa-apa kok, radit,,a,a,aku,sa,sa,yang,,,kamu. “ ( Sambil meng-
hembuskan nafas terakhir )
Radit : “ Anita………(Menjerit histeris ) jangan tinggalin aku, aku juga sayang ama kamu nit…”
Sintia : “ Anita, Maafin aku…maafin aku…” (Sambil duduk lemas tak berdaya di hadapan Anita )
Radit : “ Heh, Nit asal loh tau yah Anita ini rela mertaruhin cintanya buat loh, dia minta am ague untuk mencintai loh, dan aku turuti karena aku tau ini permintaan terakhirnya. “
Sintia : “ Maksud loh ? “
Hari : “ Asal loh tau sin, kalo Anita itu terkena kanker stadium lanjut dan umurnya ydah gak panjang lagi!!!( Sambil membentak )
Sintia : “ Kalian bohong. “ ( Tidak percaya )
Radit : “ Ini kenyataannya!!! “ ( Dengan penuh rasa amarah )
Sintia : “ Enggak, Enggak mungkin ! Anita maafin aku…maafin aku sahabatku…! Akhirnya, Anita pun meninggal dengan sejuta “ ( Sambil memeluk Anita dengan begitu eratnya )

pengorbanan kepada sahabatnya, dan dengan rasa cinta yang begitu dalam. Anita dan Ibunya meninggal dengan penuh keikhlasan dan ketulusan meskipun telah di hianati oleh orang tersebut. Walaupun Orang tersebut sahabatnya sendiri namun Anita rela asalkan sahabatnya bahagia. Sintia pun sadar bahwa begitu berartinya seorang sahabat di matanya dan dia pun meminta maaf kepada Anita dengan setulus hatinya melewati permohonan yang ia berikan melewati doanya kepada Allah SWT. Radit pun akan selalu mencintai Anita Sampai kapanpun.


TAMAT

2 komentar:

  1. lah inikan mirip drama temenku tadi pas pentas,wah dia copas ya....
    maavin temenku ya copas drama kamu tanpa izin ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. waahh massaaa?? yaaa ta apa" ;) alhmdulillah bisa membantu :)

      Hapus